Talkshow ini diselenggarakan oleh JJFM kerjasama dengan Desperindag bertempat di JJFM Hall dan disiarkan secara langsung oleh JJFM radio 105.10, menghadirkan pembicara Konsultan HKI Bpk. Benny Muliawan, S.E dan Perwakilan dari Desperindag Bpk. Didik.
Tema tersebut cukup “menggelitik” mengingat dengan banyaknya merek yang terdaftar dalam daftar umum merek maka perlu adanya strategi jitu untuk mendapatkan sertifikat merek, otomatis jalan yang dilaluipun tidak mulus bisa juga terjal dan berliku.
Perkembangan UKM di Jawa Timur cukup pesat dan menjajikan, namun kesadaran untuk melindungi aset intelektual dalam hal ini Merek, Cipta dan Desain Industri sangat kurang dimana menurut survey hanya kurang dari 2 persen dari total pengusaha di Jawa Timur yang mengajukan permohonan khususnya pendaftaran Merek. Terdapat beberapa alasan kurangnya pendaftaran yang diajukan, antara lain :
- Kurangnya informasi mengenai permohonan HKI
- Rumitnya proses permohonan
- Waktu yang lama dalam pengurusan HKI
terkait dengan proses permohonan serta waktu pengurusan, BNL Patent meluncurkan pola ”8 Jalur” maut dalam mengajukan permohonan HKI khususnya merek.
Penjabaran Bpk. Benny Muliawan, S.E pada talkshow kali ini cukup membakar adrenalin para peserta untuk mengkritisi kinerja Direktorat Merek yang memakan cukup lama dengan membandingkan dengan pengurusan di luar negeri, dijelaskan oleh Bpk. Benny Muliawan, S.E ”pengurusan di Indonesia apabila mengacu pada UU no. 15/2001 adalah 1 tahun 2 bulan 10 hari dari tanggal penerimaan (filing date) namun pada kenyataannya 2 – 2.5 tahun dihitung dari tanggal penerimaan (filing date) apabila dibandingkan dengan Singapura waktu yang dibutuhkan 6 bulan, sedangkan Hongkong .. bulan dan Malaysia 3 tahun, kita cukup berbangga lebih cepat dari pada Malaysia”.
Acara talkshow ini diakhiri dengan adanya testimoni dari pengusaha lokal yang terjerat kasus merek hingga bangkrut yaitu Ong Bambang Hartono, dimana beliau berpesan ”jangan ragu untuk mengeluarkan biaya untuk pengurusan merek, karena merek merupakan investasi apabila merek tersebut jalan maka menjadi aset kekayaan kita kelak”